01/12/07
30/11/07
Hasyim takut Neraka
Hasyim Affandi. Nama ini tidak asing bagi telinga orang Parakan, melainkan juga akrab didengar orang se Kabupaten Temanggung dan Magelang. Maklum, selain dikenal sebagai Mantan Bupati Magelang periode 1999-2004, ia juga dikenal sebagai mubalig. Lahir di kampung Besaran Parakan 19 Juli 1946. Putra dari Pasangan Bapak Suhaimin dan Ibu Rohifah ini sekarang menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Temanggung. Walaupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Temanggung akan dilaksanakan tahun 2008 mendatang, namun isu pencalonan Bekas Kepala Departemen Agama Magelang ini sudah santer. “Banyak orang yang menginginkan beliau maju jadi Bupati Temanggung, “ kata seorang tetangganya. Ketika ditanya soal ini, Hasyim sendiri mengiyakan. “Dari teman-teman, tetangga, jamaah pengajian, termasuk kerabat dan bahkan pengurus partai politik di Temanggung pernah menyampaikan kepada saya soal ini,” jawabnya polos kepada Stanplat saat ditemui di rumahnya, kampung Besaran, Jumat 9 Maret lalu.
Anda sendiri sudah bertekad maju?
“Soal itu pertimbangannya begini. Di satu sisi saya memang punya gagasan dan pengalaman yang bisa saya terapkan seandainya saya jadi Bupati Temanggung. Selain itu saya juga harus menghargai harapan baik dari saudara-saudara atas pemberian amanatnya kepada saya untuk maju jadi bupati. Namun, apakah dalam usia setua ini kondisi fisik saya masih memungkinkan? Dengan pertimbangan seperti itu Hasyim memilih santai dalam merespon pencalonan dirinya sebagai Bupati Temanggung 2008 mendatang. “Wong saya ini bukan siapa-siapa. Hidup mengalir begitu saja. Jadi Bupati Magelang sebelumnya juga tidak pernah terpikirkan,”jawabnya merendah.

Sudah lazim diketahui masyarakat bahwa pencalonan Bupati membutuhkan banyak uang. Setiap calon bupati,- apalagi bukan ketua partai politik,- biasanya harus mengeluarkan banyak biaya untuk kampanye maupun menyogok para calo di partai politik. Praktek-praktek menghalalkan segala cara juga lazim dilakukan. Apakah seorang Hasyim Affandi mau melakukan praktek busuk itu ? “Prinsipnya, saya menolak money politik,” jawabnya tegas. Konon, Hasyim selama ini memang dikenal sosok yang bersih dari perilaku suap dan korupsi. Karena perilaku inilah ia dihormati banyak orang sampai sekarang.
Menurutnya, jabatan adalah amanat yang harus dipertanggungjawabkan tidak hanya pada rakyat melainkan pada Tuhan. Karena itu dia merasa aneh melihat banyak orang kepingin jadi penguasa. “Amanat itu beban. Anehnya, sekarang banyak orang mencari amanat. Sampai-sampai harus membeli dengan miliaran rupiah untuk mendapat amanat.”
Benar Anda tidak pernah korupsi saat jadi Bupati Magelang?
“Ya Anda tahu sendirilah. Kursi yang Anda duduki itu saya beli dengan cara ngredit saat saya menjadi pegawai Depag dulu….,” ujarnya sambil terkekeh menunjuk kursinya yang mulai kusam. “Pokoknya saya tidak mau menerima harta yang subhat (tidak jelas asal muasalnya). Saya menerima harta, ya dari gaji itu saja.” Hasyim juga mengakui pernah berniat mundur dari jabatan Bupati Magelang memasuki masa jabatan dua tahun.
Ia menambahkan, “saya malu dengan Gusti Allah. Setiap hari saya berdoa minta dijauhkan dari api neraka, tapi dalam praktek keseharian malah mingkrik-mingkrik dipinggir jurang neraka.”
***
Semenjak menyelesaikan tugasnya menjadi Bupati Magelang, Hasyim menjaga jarak dari area politik. Ia kembali ke tengah masyarakat, mengurus Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Parakan dan menjadi Ketua MUI Cabang Temanggung. Bergaul dengan masyarakat bawah adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi.

MI yang sedang dikelola bersama rekan-rekannya di kampung Besaran itu kelak ingin dihidupkan sebagai MI unggulan. Dengan menerapkan proses pendidikan dan pembelajaran yang rasional, Hasyim berharap para siswa MI semakin baik kualitas sumberdaya manusianya. Ia pun berharap kepada masyarakat agar mencintai dunia buku. Usaha menggalakkan minat baca, menurut Hasyim harus dimulai dengan manajemen yang mudah. Jika kebanyakan birokrat berpikir, “kalau bisa dibuat susah kenapa dibuat mudah,” Hasyim justru sebaliknya, “kalau bisa dibuat mudah kenapa harus dibuat susah?”.
“Beredar bacaan gratis seperti Stanplat bagus. Karena dengan begitu masyarakat mudah mendapatkan bacaan. Cuma, sampai kapan Stanplat mampu beredar gratis?” tanyanya.
Karena itu ia menyarakan agar Stanplat dijual dengan model subdisi silang. Maksudnya, sebagian orang yang mampu beli diharapkan membayar. Dengan begitu sec
“Kalau saya Bupati Temanggung, itu perpustakaan di Kowangan akan saya pindahkan ke tempat Strategis di kota supaya masyarakat mudah membaca. Kowangan itu bukan tempat strategis. Orang pasti malas datang ke sana, “katanya.(Faiz Manshur - Stanplat edisi 09, bulan April 2007)
28/11/07
Hasyim Afandi Siap Dicalonkan Jadi Bupati
untuk dicalonkan menjadi Bupati Temanggung periode 2008-2013, terjawab sudah. Mantan Bupati Magelang, yang saat ini juga menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Temanggung itu menyatakan siap untuk dicalonkan menjadi Bupati Temanggung.Hasyim mengaku, selama ini memang banyak didatangi orang, yang selain bersilaturahmi juga menanyakan kemungkinan pencalonan dirinya sebagai Bupati Temanggung. Sejumlah parpol juga dengan terus terang berminat untuk mengusungnya.
''Sebagai manusia, sebelum menjawab pertanyaan tadi saya harus mengukur, baik secara pribadi, keluarga, agama dan lainnya. Jawabannya, bila itu menyangkut sebuah tugas dan panggilan, maka insya allah saya bersedia,'' kata dia, di rumahnya, Desa Danurejo, Kecamatan Kedu.
Menurutnya, jawaban yang dikemukan itu tentunya telah melalui berbagai pertimbangan. Antara lain, pertimbangan pribadi dan keinginan masyarakat. Pertimbangan pribadi adalah menyangkut apa yang akan dicari dari jabatan bupati tersebut.
''Karena bagaimanapun, saya sudah pernah merasakan saat bertugas di Kabupaten Magelang dan bahkan harus menolak untuk dipilih kedua kalinya. Kemudian menyangkut keinginan masyarakat, yakni agar ada perbaikan di Temanggung,'' tuturnya.
Dikatakan, saat ditanya masyarakat soal kemungkinan maju ke Pilbup 2008, dirinya sempat mengajukan pertanyaan kepada Parpol yang bakal mengusungnya. Terutama menyangkut kontrak politik, hal-hal ideal seputar Parpol dan lainnya. Hal itu dilakukan, karena dia merasa trauma dengan hal-hal yang menyimpang.

''Akan tetapi, ketika kontrak politiknya adalah agar bisa membawa Temanggung yang lebih baik, saya mantap untuk maju," jelas mantan Kepala Depag Kabupaten Magelang sekaligus Ketua DPD II Golkar Kabupaten Magelang itu.
Sebagai Ketua MUI, Hasyim tidak ingin melakukan hal-hal yang menyimpang baik dari agama, pemerintah maupun etika. Dan kondisi itupun telah diketahui oleh Parpol yang hendak mengusungnya. Bahkan masyarakat juga paham dengan posisi dia, sehingga mereka mengaku siap mendukung, meski tanpa money politics.
( henry sofyan/cn09 ) www.wawasandigital.com
Apa Pedagang Lesehan Boleh Jualan
BOROBUDUR- Kali kedua rencana pembangunan Pasar Seni Jagad Jawa (PSJJ) disosialisasikan ke masyarakat di Kantor Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, kemarin. Sebelumnya, sosialisasi di Balai Desa Borobudur, 3 Desember 2002.
Sekitar 110 orang yang hadir dari perwakilan pedagang kios, relokasi, lesehan, kartu pos, cuci mobil, usaha MCK, tukang becak, andong, dan HPI. Sementara itu yang bukan pelaku wisata adalah kepala desa, Badan Perwakilan Desa LKMD, tokoh masyarakat dan pemuda, LSM Tanker, petugas Kantor Balai Studi dan Konservasi Candi Borobudur.
Tim Konsultasi Jagad Jawa diwakili Yudiatmoko dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Sayang, Ketua Tim Dr Wiendu Nuryanti kembali tidak bisa datang.
Bupati Magelang Drs H Hasyim Afandi menganalogikan secara sederhana rencana pengembangan kawasan Borobudur, termasuk PSJJ. ''Ada dana untuk membangun, meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ya diterima.''
Simak dialog Bupati Hasyim dengan Margito, pedagang lesehan di Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB).
''Apa pedagang lesehan boleh berjualan di PSJJ?'' tanya Margito.
''Semua boleh. Tak ada yang disingkirkan,'' jawab Bupati Hasyim.
''Jam berapa PSJJ akan dibuka. Saya usul wisatawan nantinya berjalan kaki ke Candi Borobudur, jangan naik kereta wira-wiri.''
''PSJJ akan dibuka tiap hari pukul 06.30 dengan maksud agar wisatawan yang datang pagi bisa lebih dulu memanfaatkan usaha jasa MCK. Wisatawan tak akan dipaksa naik kereta wira-wiri, sehingga bisa berjalan kaki, menumpang andong atau becak.''
''Apakah dengan adanya PSJJ dijamin masyarakat bisa ditata? Candi Borobudur tidak semrawut?''
''Tujuan penataan memang untuk mengurangi kesemrawutan. Namun kalau tidak bisa ditata, manusia itu ya begitu.''
''Apakah PSJJ berlantai tiga, tidak menganggu arsitektur bangunan Candi Borobudur?''
''Gubernur Jateng sudah izin Unesco dalam rangka BIF 2003. Sekjen Unesco akan datang ke Borobudur pertengahan tahun ini.''
Badari, tokoh masyarakat Dusun Gedingan, memberikan konfirmasi soal isu biaya untuk menempati kios di PSJJ, Rp 7 juta - Rp 8 juta.
Yudiatmoko mengungkapkan, nantinya sewa, besarnya sama dengan harga sewa saat ini di TWCB. Bahkan akan diusulkan adanya subsidi silang untuk penghuni kios.
''Apa PSJJ mampu menampung semua pedagang di TWCB?''
''Konsepnya mampu. Yang akan dibangun 1.200 unit. Namun keputusan 1.200 kios itu bukan harga mati.''
Yanto, salah seorang hadirin menanyakan, tujuan membangun PSJJ memindahkan parkir dan berjualan?
''Tidak. Kami akan meluaskan keramaian agar tertata dengan baik, sehingga wisatawan nyaman,'' jawab Bupati Hasyim.
Imam Widodo dari HPI mengusulkan agar pendataan pedagang yang akan masuk PSJJ ditangani lembaga yang independen untuk menghindari kemungkinan adanya permainan. Namun hendaknya yang diutamakan, masuk PSJJ warga Borobudur.
Bupati setuju terhadap usulan itu. Masyarakat Borobudur diprioritaskan. Untuk itu diminta PT Taman bekerja sama dengan lembaga independen dalam mendata pedagang.
Camat Borobudur Endot Sudiyanto SSos mengungkapkan, sosialisasi itu akan dilanjutkan ke semua desa di wilayah itu. Karena yang diprioritaskan adalah delapan desa sekitar Candi Borobudur, yaitu Candirejo, Wanurejo, Borobudur, Tuksongo, Tanungsari, Ngagogondo, Ringin Putih, dan Bumiharjo. (pr-64j)
Sapi Doyan Dawet
MEMANG dasar lagi apes. Hari Rabu (3/9) itu sebenarnya hari istimewa. Para warga memadati Lapangan drg Soepardi di Kota Mungkid di Kabupaten Magelang. Mereka bersiap menonton demonstrasi karapan sapi, sebuah adu cepat yang biasa dilakukan di Madura. Demonstrasi ini diadakan dalam rangkaian penutupan "Gelar Potensi dan Promosi Peternakan", bagian dari Hari Kebangkitan Peternakan dan Kesehatan Hewan yang secara nasional dipusatkan di tempat ini. Ny Tuminah pun merasa bakal banyak pembeli minuman dawetnya, yang ia jajakan di pinggir arena pameran berhias jerami kering tersebut. Ia yakin penonton yang kegerahan oleh panasnya udara bakal menyerbu dagangannya. Memang betul ada yang menyerbu, cuma mereka bukan manusia, tetapi para makhluk berkaki empat. Dengan mendengus-dengus seperti banteng di dalam lukisan masa romantik, sapi-sapi itu yang mestinya dielu-elukan sebagai ’atlet sapi’, malah melaju ke arah stan minuman dawet. Langsung saja Ny Tuminah bangkit, dan ambil langkah seribu-meski nyatanya baru belasan langkah sudah terengah. Maklum, ia sudah bergelar ’manula’ dan berhak mengantungi KTP seumur hidup. Ratusan penonton menjerit-jerit saat dua pasang sapi menabrak langsung dagangan dawet. Akibatnya minuman berujud cendol bersantan dan pemanis dari gula jawa itu tumpah berhamburan. Satu dosin gelas pecah. Sebuah "krombong' penyangga dagangan ringsek. Korbannya bukan hanya dawet tumpah, tetapi juga stan cenderamata yang terkena serempetannya. Penunggu stan lari tercerai-berai sambil menjerit. Meski masih dag-dig-dug, Ny Tuminah sedikit lega karena Bupati Magelang Hasyim Afandi menyatakan segera memberi ganti rugi. Nilai dagangan dawet itu Rp 150.000. "Ada pepatah kalau ditabrak sapi akan mendapat anugerah. Pedagang dawet tadi dagangannya cepat habis karena tumpah, artinya dia cepat pulang. Saya sudah meminta untuk diganti kerugiannya," kata Afandi. Meski sempat terhenti karena insiden itu, demonstrasi karapan sapi tetap dilanjutkan. Dan orang bertepuk girang melihat sapi-sapi bisa berlarian kencang. Hewan-hewan bertanduk itu tidak lagi menyasar ke arah minuman dawet. Mungkin karena semua sudah tumpah. and/ant
04/04/07
Golkar Mulai Saring Balon Bupati
Wawasan Rabu, 04 April 2007 :
Pada kesempatan sama, Ketua DPD II Partai Golkar, Temanggung Tunggul Purnomo mengakui suhu politik di Temanggung sudah mulai memanas. Pilkada masih 15 bulan lagi tapi suasana sekarang sudah sumuk. Biasanya yang merasa sumuk ini yang tidak punya kendaraan. Saya minta kader Golkar tidak terpengaruh, ujar Tunggul. Tunggul memastikan, mendekati pilkada 2008 partainya tetap akan mencalonkan kadernya. Soal siapa yang akan maju, yang penting memenuhi kriteria sederhana, matang, amanah, religius dan teruji (SMART). Akan tetapi partainya untuk sementara ini lebih memilih membenahi kepengurusannya di tingkat terendah, di desa.
Partai akan menggelar musyawarah desa. Bukan berarti pimpinan-pimpinan desa itu akan diganti tapi ditata lagi melalui musdes. Karena 2007 ada pilkades, musdes terpaksa diundur, daripada kita dianggap nganggu gawean atau nimbrung, tandas Tunggul. Jika tak ada aral melintang, musdes direncanakan digelar 31 Mei 2007 mendatang. her/ar
23/07/02
Banyak Pengusaha Tak Kantongi Izin
| Hasyim Afandi SM/pr | |
MUNGKID - Bupati Magelang Drs H Hasyim Afandi akan membentuk Badan Pengendali Penambangan Pasir Merapi (BP3M). Badan itu akan mengawasi dan mengendalikan penambangan serta mengadakan pembinaan hukum. Keinginan itu dia paparkan di depan Panitia Anggaran APBD Perubahan 2002 DPRD Kabupaten Magelang, Senin (22/7). Personel lembaga itu terdiri atas unsur lembaga swadya masyarakat (LSM), tokoh masyarakat, pemerintah, dan pengusaha.
BP3M untuk menjembatani penyelesaian masalah sekarang dan yang seharusnya di kawasan penambangan pasir Merapi.
Misalnya, banyak pengusaha tak mengantongi surat izin penambangan daerah (SIPD), areal yang ditambang melebihi luas lahan yang diizinkan, kerusakan lingkungan, dan memaksimalkan pajak galian golongan C. Penasihat BP3M adalah Muspida, Ketua DPRD, Ketua Pengadilan, KH Akhmad Jazuli, dan KH Abd Rozzaq. Pengurus harian diketuai Drs Joko Sudibyo MT dari Kantor Pariwisata.
Fungsi BP3M mengawasi dan mengendalikan bidang pertambangan, transportasi dan jalan, serta lingkungan. Juga menertibkan perizinan, membantu mengatasi konflik, mengendalikan pungutan tidak sah, dan menjaga keamanan.
Belum Memiliki
Bupati menilai sekarang banyak penambangan belum memiliki SIPD, penambangan di hutan lindung, teknis penambangan tidak dipatuhi, kurang kepedulian lingkungan, tidak mematuhi aturan hukum.
Masyarakat, LSM, asosiasi, dan pemerintah juga kurang berperan secara proporsional. Di samping itu, reklamasi dan reboisasi belum dilaksanakan, muncul konflik kepentingan, belum ada tindakan law enforcement (penegakan hukum), ada pungutan-pungutan tidak tidak resmi, serta PAD sektor pertambangan belum optimal. Drs M Sofyan, anggota Komisi C, menyatakan setuju keberadaan badan otorita itu untuk menyelamatkan ekosistem dan semua aspek di kawasan penambangan pasir Merapi.
Dia mengingatkan lembaga itu jangan seolah-olah hanya diisi para tokoh dari Kecamatan Srumbung dan Salam. Tokoh dari Kecamatan Sawangan, Dukun, dan Muntilan yang dilalui truk pengangkut pasir hendaknya juga diakomodasi. Dia menyarankan LSM yang dilibatkan sudah berbadan hukum, independen, terutama yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Jangan sampai lembaga itu menjadi badan pembina komponen yang sudah ada sekarang.
"Kami khawatir iktikad baik Bupati sulit terwujud," kata Sofyan. Yang jadi pemikiran anggota legsilatif dari Partai Amanat Nasional itu, dana operasional BP3M diambilkan dari mana? (pr-56g)
http://www.suaramerdeka.com/harian/0207/23/dar18.htm
23/05/02
Penambangan Pasir Belum Selesai, Sudah Ada Ide Taman Merapi
Yogyakarta, Kompas - Proses penambangan pasir di beberapa desa Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, terus berlanjut, kendati Bupati Hasyim Afandi sudah mengeluarkan perintah untuk menindak penambang yang tak punya izin. Yang menambah stres, warga yang masih bingung memikirkan lingkungan yang rusak, bertambah pusing memikirkan kawasan tempat tinggalnya yang hendak dijadikan proyek Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM)
Kirjito, tokoh masyarakat Desa Sumber, Kecamatan Dukun, membenarkan hal itu ketika dihubungi Kompas, Rabu (22/5). Setelah ada peraturan dari Bupati Magelang, Badan Perwakilan Desa (BPD), aparat keamanan, dan penambang pasir sempat bertemu, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Justru penambangan makin meluas, katanya.
Siapa pun yang datang di desa sekitar Dukun akan melihat dengan mata kepala sendiri, banyak lahan kosong yang kini tak beraturan. Berlubang-lubang, kalau hujan menjadi kolam.
Kondisi menyedihkan antara lain dialami mBah Semi (65). Nenek tua lima tahun terakhir ini tinggal sendirian karena ditinggal suaminya. Namun, ia juga menjadi manusia yang langka di Desa Sumber. Di lereng Merapi sebelah barat itu, tatkala banyak tetangganya menjual tanahnya untuk ditambang, dicari pasirnya, mBah Semi dengan gigih bertahan.
Kini, tanah di sekelilingnya sudah habis dijual kepada penambang pasir yang memakai back hoe (bego). Tanah mBah Semi yang sebenarnya tak begitu luas itu menjadi kelihatan paling tinggi, tanah itu bagaikan panggung terbuka karena sekitarnya sudah jauh lebih rendah. Bagaimana caranya jika hendak menanami tanahnya? "Kalau perlu saya akan menek (memanjat) tanah saya, pokoknya tak akan saya jual kepada penambang pasir. Tanah itu dulu kami beli dengan cara menabung lama sekali, masak sekarang tiba-tiba mau dijual," katanya.
Belum selesai dengan penambangan pasir yang merusak lingkungan dan kenyamanan hidup, masyarakat lereng Merapi juga diresahkan oleh gagasan pembangunan TNGM.
Susanto dari Grogol, Kecamatan Dukun, mengatakan saat ini baru ada rencana, sudah gentayangan tengkulak tanah yang mau membeli tanah di Babadan. Banyak penduduk juga takut nantinya akan terjadi penggusuran jika TNGM benar-benar dilaksanakan.
Melihat situasi seperti itu, dalam sebuah forum beberapa waktu lalu, Kirjito mengusulkan agar pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tidak usah buru-buru menyosialisasikan gagasan itu.
"Kita bisa belajar dari para pendiri negara ini. Gagasan untuk merdeka itu sudah digaungkan lama sebelum tahun 1945, tetapi baru terlaksana setelah bertahun-tahun. Jadi, intinya perlu sosialisasi dan persiapan dari masyarakat untuk menerima gagasan itu," katanya. Gagasan untuk membangun TNGM beberapa kali diseminarkan untuk menyatukan persepsi antara birokrat DIY dan Jawa Tengah dan juga antara birokrat dengan masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Merapi.
Dari segi kewilayahan, luas TNGM direncanakan 8.472,1 hektar, meliputi 1.791 hektar berada di DIY dan sisanya 6.961 hektar di Jateng. Walaupun lebih banyak berada di Jateng, yang tampak ngotot untuk membangun TNGM justru pemerintah DIY. Dalam satu kesempatan pertemuan, Kepala Dinas Kehutanan Jateng Hektiarto menegaskan, Jateng tak akan buru-buru memutuskannya dan akan mengkaji secara mendalam. Jateng menginginkan kantor TNGM itu nantinya tidak berada di DIY.
Masyarakat sendiri sebenarnya terbelah. Untuk lereng Merapi utara beberapa wakil masyarakat dari Kecamatan Selo menginginkan agar TNGM segera terealisasi untuk mengembangkan daerahnya. Sementara lereng selatan, karena alasan kultural, justru menghendaki Merapi tak usah diubah menjadi macam-macam. Tetap seperti sekarang ini saja. (TOP/NAR/SIG) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0205/23/jateng/pena25.htm
22/03/99
Hasyim Afandi dilantik jadi Bupati Magelang
SENIN pagi ini sekitar pukul 10.00 di Pendopo Drh Soepadi Kota Mungkid, Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Magelang, Drs H Hasyim Afandi dilantik menjadi Bupati Magelang 1999-2004, menggantikan H Kardi yang habis masa jabatannya. Rencananya, pelantikan akan dilaksanakan oleh Wakil Gubernur Jateng mewakili Gubernur Mardiyanto yang tengah menunaikan ibadah haji. Acara pelantikan kali ini berlangsung agak istimewa, karena bertepatan dengan HUT Kota Mungkid. Namun yang lebih istimewa lagi, calon kepala daerah yang akan memimpin Magelang dalam kurun waktu 5 tahun ke depan ini, merupakan pilihan rakyat Magelang sendiri, dan dipilih secara demokratis. Beberapa waktu lalu wartawan Bernas di Magelang, Ch Kurniawati berhasil wawancara dengan Drs H Hasyim Afandi. Berikut petikannya.
Bernas (T): Bagaimana perasaan bapak ketika pertama kali mendengar akan dicalonkan sebagai bupati?
T: Apa yang bapak bayangkan setelah duduk menjadi kepala daerah, di jaman reformasi ini?
Kalau tidak ada salah pengertian, pasti ada toleransi. Kalau ada toleransi, pasti ada partisipasi dan sebagainya. Yang paling penting komunikasi. Medianya...ya nantilah bisa dibicarakan. Termasuk media tidak resmi. Artinya, bisa dengan siapa saja. Sampai hari ini saya merasakan banyak hal-hal. Saya di Depag ngopeni 3.400 orang, saya kadang-kadang tahu permasalahan, hanya karena ketemu di jalan, ngomong-nomong...lalu mereka bilang, kepangkatannya belum turun.
Saya kira itu kata kuncinya, nanti bisa dijabarkan dalam banyak hal. Kita bisa menyiapkan metodenya, kapan ketemu, bentuknya nanti bermacam- macam, termasuk nanti dengan legislatif. Tapi yang jelas, saya ingin menciptakan pemahaman bersama kemudian kita lakukan bersama. Kalau tanggung jawab tidak bisa dibagi, tapi ada di pundak saya, karena saya yang diberi tanggungjawab. Tapi kalau kewenangan, kan bisa bersama-sama.
Drs H Hasyim Afandi, lahir di kota tembakau Temanggung, 1 Juli 1946. Lulus dari Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga Yogya tahun 1971. Mengawali kariernya di pemerintahan sebagai YMT Kasubsi Lembaga Dakwah (1978) kemudian menjadi Pj Kasie Penais (1979), Kasi Penais (1980), Pjs Kasie Urais 1986), Kasie URais (1989), Kasubag TU (1991). Setahun kemudian, pindah ke Kabupaten Magelang menjadi Kakandepag. Ia juga merangkap menjadi YMT Kakandepag Kabupaten Purworejo. Pernah menjadi Dosen di UNNU Temanggung dan menjadi anggota FKP DPRD Kabupaten Temanggung periode 1987-1989.
T: Banyak yang kwawatir, pola kepemimpinan bapak sama seperti yang diterapkan Golkar, karena dulu bapak orang Golkar?
J: (tertawa). Satu hal yang prinsip ya, saya sadar betul bahwa bupati itu adalah jabatan negara, bukan jabatan karir. Saya akan memegang apa yang pernah diucapkan oleh mantan Presiden Amerika, Kennedy. Saya akan jadi negarawan bukan politikus. Kalau politikus, orang hanya memikirkan golongannya saja, kepentingan interes. Tapi kalau negarawan kan berpikir untuk semuanya. Jadi saya akan berpikir, memperhatikan mengajak semuanya saja. Saya sadar betul, saya bukan bupatinya satu golongan, partai atau satu kelompok. Tapi saya bupatinya masyarakat Magelang.
T: Bapak sudah tahu seluk beluk Kabupaten Magelang? J: Ya, dari beberapa sisi-lah, bukan keseluruhan. Paling tidak, yang saya selami lewat jalur agama. Dari jalur agama, saya menangkap aspirasi masyarakat. Jalurnya yang saya pahami, tapi kalau permasalahan, saya harus banyak belajar.
T: Untuk masalah ekonomi?
J: Untuk masalah ekonomi, seharusnya kita harus berpijak pada nilai realitas. Magelang dengan semboyan Gemilang (Gemah Ripah) menunjukkan potensi alamiahnya. Sumber daya alam yang sangat tinggi. Jadi menurut hemat saya, kalau kita mau mengembangkan ekonomi di daerah, kita harus bisa menjadikan pertanian menjadi pola dukung pertanian dalam arti yang luas. Pola pertanian tidak hanya menanam, mencangkul. Tapi juga harus menigkatkan SDM-nya, seperti agrobisnisnya, agroindustrinya...semuanya diolah.
T: Masalah pendidikan?
J: Di Magelang masih banyak yang drop out. Bahkan sekitar 80 persen hanya tamat SD. Ini berkaitan dengan kecakapan tenaga kerja mereka. Ini juga harus dipikirkan.
Drs H Hasyim Afandi memiliki 6 orang putra dari dua istri. Istri pertama (almarhum) meninggalkan 3 orang putra. Kemudian menikah lagi dengan Lies Daryati, guru SD yang membawa tiga orang putra. Keenam putra-putri itu: M Helmi Syarif, Fitri Nadya dan M Helman Taufani. Kemudian Ikhda Misbachudin AR, Toriq Khiurulloh AR dan Arini Zakiya AR.
Bersama-sama putra-putrinya, Hasyim mengaku tak pernah membeda- bedakan. Ia bahkan sangat akrab dengan mereka, karena ia menerapkan sikap demokrasi di keluarganya. "Kalau saya bersalah, saya siap dikritik oleh anak-anak," katanya. Bahkan ketika tahu ia dicalonkan sebagai bupati, anak-anaknya malah menggoda. "Wah, aku ditukoke sepatu anyar bakale," kata Hasyim menirukan anaknya. Ia juga membangun mental pada anak-anaknya, untuk tidak terlalu berbangga bila ayahnya menjadi bupati. "Saya selalu menekankan pahitnya saja. Tidak pernah yang muluk-muluk," tandasnya.
Hasyim Afandi ikut Sepala di Depag LAN (1980) dan Sepadya di Depag LAN (1993). Duduk di bagian OKK PP Golkar Temanggung (1983-1988), Wakil Ketua Golkar Temanggung (1988-1993), Wakil Ketua Bazis Temanggung (1984- 1992), Wakil Ketua Golkar Kabupaten Magelang (1993-1998), Wakil Ketua Bazis Magelang (1994) serta menjabat sebagai ketua Yayasan Ngudi Mulyo 1997 hingga kini. (*)





